Selasa, 07 Maret 2017

Sepak Bola Indonesia di Mata Ekspatriat Inggris Antony Sutton

Petualangannya ke seluruh penjuru negeri untuk menyaksikan langsung pertandingan-pertandingan Liga Indonesia selama satu dasawarsa terakhir menulurkan sebuah buku berjudul "Sepakbola: The Indonesian Way Of Life".
Antony Sutton Membuat Sebuah Buku Tentang Sepak Bola Indonesia
Tidak seperti warga negara asing lain Antony Sutton datang ke Indonesia dengan tujuan unik yaitu menyelami sepak bola di tanah air, dalam pandangannya sepak bola Indonesia punya atmosfer luar biasa dan berbeda dengan negara lain. Petualangannya ke seluruh penjuru negeri untuk menyaksikan langsung pertandingan-pertandingan Liga Indonesia selama satu dasawarsa terakhir menulurkan sebuah buku berjudul "Sepakbola: The Indonesian Way Of Life".

"buku ini semacam perkenalan sepak bola Indonesia, seperti sejarah, budaya, pemain, pelatihnya. Ini tentang mendukung saat pertandingan, ini tentang merasakan sepakbola Indonesia dan masyarakatnya. Saya coba meletakkan di sisi positifnya. Orang bilang sepakbola Indonesia sangat buruk, reputasinya jelek sekali. Lewat buku ini saya coba membaliknya, lihat dari perspektif berbeda. Jadi saya pihak luar yang masuk dan mengamati, mungkin membandingkan sepakbola di Indonesia dengan negara lain, lalu melihat sisi positifnya." ujar Antony Sutton Penulis 'Sepakbola: The Indonesia Way Of Life'.

Kecintaannya terhadap sepakbola Indonesia berawal ketika menonton duel Persija Jakarta lawan Sriwijaya FC tahun 2006 di Stadion Lebak Bulus. Ketika itu Sutton mengaku langsung terpana dengan atmospire yang di ciptakan Jackmania. Sejak saat itu suporter Arsenal itu terus mencari tahu segala hal tentang sepakbola Indonesia.

"Pertama kali saya pergi nonton, saya berjalan ke dalam stadion dan sangat berisik, warna itu,hasrat itu. Seperti di sepak bola Inggris 30-40 tahun lalu, terasa ada gairah, hasrat yang mungkin lebih orisinal." ucap Antony Sutton.

Pemilik blog bernama "Jakarta Casual" ini juga bersyukur konflik dualisme yang sempat melanda sepakbola Nasional perlahan pudar, setelah FIFA menghapus sanksi terhadap PSSI diikuti pencabutan pembekuan PSSI oleh Pemerintah, carut marut dan keributan di panggung sepakbola Indonesia mulai sirna.

"saya pikir PSSI yang baru perlu diberi kesempatan, mereka punya beberapa ide bagus, mereka membahas hal-hal yang tepat, pemusatan latihan, dan beberapa kemungkinan soal aspek kepelatihan tim Nasional. Tapi saya merasa pernah ada yang hilang di sepakbola Indonesia sejak saya mulai menulis tentang ini tahun 2006. Ada dua liga, dua tim Nasional, dua PSSI, dua asosiasi pemain, dua Persija, dua Arema, dua Persebaya. Mungkin itu menjadi tahun-tahun yang membosankan. Sepakbola harusnya fokus pada dirinya sendiri, pelatih fokus pada perkembangan pemain, klub membangun akademi." Ucapnya.

Meski tidak mempunyai klub favorit di Indonesia Sutton mengaku salut terhadap Persebaya yang selalu mendapat dukungan luar biasa dari Bonek salah satu kelompok suporter sepekbola terbesar di Indonesia. Persebaya dan Bonek menjadi salah satu tema yang di bahas dalam bukunya.

"di sini ikatan antara klub dan penggemar semakin kuat. Kita bisa lihat klub seperti Persebaya, ketika mereka kesulitan Bonek benar-benar membuat klub tetap hidup. Anda tak bisa temukan itu di negara lain." Ucapnya Lagi.

Buku Sepakbola: The Indonesia Way Of Life sebenarnya sudah rampung sejak 2014 namun ketika itu masih berbahasa Inggris, baru sekarang buku tersebut di buat dalam bahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar